Breaking News

Bahasa Indonesia Makin Penting di Cina

Selasa, 06 Februari 2007 11:39:00
Bahasa Indonesia Makin Penting di Cina


Guangzhou-RoL -- Penggunaan Bahasa Indonesia di Cina dinilai semakin penting, khususnya mendukung kegiatan pariwisata di negara itu, seiring meningkatnya arus kunjungan wisatawan Indonesia tiap tahun ke Cina.

Guru Besar Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia dan Melayu, Guangdong Universitty of Foreign Studies, Prof Cai Jin Cheng MA kepada ANTARA di Guangzhou, mengatakan, bukti makin pentingnya bahasa Indonesia di Cina terlihat ditingkatkannya penerimaan mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia dari sebelumnya sekali lima tahun menjadi dua tahun sekali.

Ia mengatakan, sekali menerima mahasiswa sebanyak 20 orang dan para lulusannya sebagian besar bekerja di bidang pariwisata, di Departemen Luar Negeri Cina, Kantor Konsultan dan Kedubes Cina di Indonesia.

Bahkan, para lulusan tersebut telah menjadi pimpinan sejumlah biro perjalanan di Guangzhou, Beijing, Shanghai, Shenzhen dan Guilin. Mereka pun menerima staf atau karyawan lulusan jurusan sastra dan bahasa Indonesia di perusahaannya.

Dalam meningkatkan pelajaran Bahasa Indonesia di Cina, pihak Guangdong Univertty sejak tahun 2003 hingga kini bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada Yogjakarta untuk mendidik staf pengajar dari Cina mendapatkan gelar master sastra dan bahasa Indonesia.

Tahun ini dikirim 10 orang dosen Guangdong Universitty ke UGM untuk mendapatkan gelar master itu, dan mereka yang kembali kini mengajar sastra dan bahasa Indonesia di Cina.

Lebih lanjut, Cai Jin Cheng mengatakan, jurusan sastra dan bahasa Indonesia pertama dibuka di perguruan tinggi itu pada tahun 1970, justru saat hubungan politik dan luar negeri Indonesia-Cina sedang berada pada titik terbawah.

Saat itu, hubungan Indonesia-Cina dibekukan, namun pimpinan Cina saat itu Mao Zedong menilai bahasa Indonesia begitu penting, karena Indonesia adalah negara yang besar, sehingga jurusan sastra dan bahasa Indonesia tetap dibuka tahun 1970.

Ia menyebutkan, meskipun para lulusan jurusan ini saat itu belum terpakai, namun jurusan Bahasa Indonesia harus tetap dibuka meski hanya menerima mahasiswa sekali lima tahun.
Pemerintah Cina berpendapat, suatu ketika bahasa Indonesia pasti akan dibutuhkan di negara ini , karena itu lulusan jurusan tersebut harus tetap dipersiapkan.

Pendapat itu, kini terbukti setelah hubungan Indonesia Cina kembali dibuka dan arus kunjungan antarkedua negara meningkat, khususnya dengan ditandatanganinya MoU kerja sama pariwisata kedua negara pada 30 Maret 2001, sehingga wisatawan Indonesia banyak datang ke negara ini.

Selain itu, kebutuhan tenaga yang pandai berbahasa Indonesia juga dibutuhkan untuk kepentingan bisnis dan ekonomi antar negara yang hingga kini semakin meningkat.

Salah seorang lulusan jurusan sastra dan bahasa Indonesia Guangdong Universitty, Zhang Xiaomei menyebutkan, setelah lulus dan menguasai bahasa Indonesia dirinya mudah mendapat pekerjaan yakni di perusahaan biro perjalanan wisata yang selalu mendatangkan wisatawan dari Indonesia ke negara ini tiap tahunnya.

Dipilihnya jurusan bahasa Indonesia, menurut dia, karena bahasa ini termasuk minoritas dan langka dikuasai di Cina, sedangkan peluang kerja di bidang ini cukup terbuka, sehingga setelah selesai kuliah dirinya mudah mendapat pekerjaan.

Zhang Xiaomei yang lulus pada tahun 2006 ini, kini bekerja di Dong Fang Internasional Travel Service Ltd Guangzhao yang tiap tahun banyak menerima atau memandu kunjungan wisatawan asal Indonesia ke Cina.