Sains

Tuhan, Sains dan Batak

"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
Sesungguhnya Kami menyediakan pada orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kamper atau kafur, yaitu mata air dalam surga yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya." (al-Qur'an surah al-Ihsaan).

Ini adalah sebuah argumentasi naqli yang menunjukkan eksistensi kafur dan keistimewaannya dalam kehidupan religi tidak hanya Islam tapi juga agama-agama lain. Pada zaman diturunkannya ayat tersebut, kalimat kafur ditujukan kepada al-Kafur al-Fansuri dan bukan zat sepertinya yang sudah diolah banyak di luar wilayah Fansur.

Ayat tersebut di atas juga menunjukkan keistimewaan tanah Batak sebagai sumber penghasil kafur, satu-satunya di dunia saat itu, setidaknya sebelum pengembangan sejenis di berbagai tempat tapi dengan kualitas yang lebih rendah.

Penunjukan zat kafur yangh masyhur itu juga disebut berkali-kali dalam syair-syair Arab sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW. (Lihat: artikel "Kafur", A. Dietrich, Ensiklopedia Islam (E.I) 2 hal: 435-436.

Kafur sering kali disejajarkan dengan minyak kesturi untuk melambangkan kontras warna hitam dan putih. Dikontraskan misalnya, Misk al-madad wa kafur al-qaratis (warna minyak kesturi dari tinta dan warna kafur dari kertas.

Dalam karya dua orang sejarawan, Ibn al-Atir (wafat tahun 1233 M), dan Ibn al-Baladuri (wafat tahun 1473) tercatat bahwa pada tahun 16 H/637 M, sewaktu perebutan ibu kota Dinasti Sassanid, yaitu Ctesiphon, orang-orang Arab menemukan kamper alias kafur yang dikira garam di antara rempah-rempah dan wangi-wangian. (W. Heyd, Histoire du commerce du Levant [Sejarah Pergadangan di Kawasan Syria-Libanon], edisi Prancis yang disusun kembali oleh Furcy Raynand, Amsterdam: Adolf M, Hakkert, 1967, tambahan I, hal 590).

Para pelaut-pelaut kuno biasanya sangat merahasiakan peta perjalanan mereka dengan tujuan memonopoli perdagangan ke daerah tersebut. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Arab, membuat banyak ilmuwan yang berusaha menjelaskan posisi Fansur atawa Barus di Tanah Batak, agar mudah menjangkaunya bagi siapa saja yang ingin berdagang atau menggali benda-benda yang ada di Fansur demi perkembangan ilmu pengetahuan.

Pionirnya adalah Ali bin Sa'id al-Maghribi, yang dikutip G. Ferrand, dari bukunya berjudul Buku yang disusun dan diringkas oleh Ali bin Said al-Maghribi, seorang Spanyol: …..berdasarkan karya Geografi (dari Ptolemaeus) terdiri dari tujuh bab ditambah garis bujur dan garis lintang tepat menurut Ibn Fatima.

Tanah Batak dengan kota Barus atau Fansur-nya semakin ramai dikunjungi berbagai ilmuwan Arab, khusunya bidang kedokteran karena kafur tersebut diyakini mempunyai kasiat tersendiri.

Ibn Gulgul, abad ke-10 M, seorang ahli biobibliografi dan ilmu kedokteran dari Andalusia, mencata kafur atau kamfer dalam 63 bahan obat-obatan baru yang belum dikenal sebelumnya sebagai obat, kecuali hanya pewangian dan alat-alat ritual semata di agama-agama paganisme.

Ibn Sarabiyun pada abad ke-10 juga mulai memperkenalkan zat yang sangat ampuh ini. Ibn al-Baytar yang mengutip Ishaq ibn Imran yang hidup awal abad ke-9 M juga melakukan hal yang sama. Ketiganya melalui serangkaian eksperimen yang dilakukan berhasil menjelaskan berbagai fungsi dan kegunaan kafur dengan berbagai campuran untuk khasiat yang berbeda-beda.

Fungsinya dalam berbagai bentuk olahan diantaranya adalah, sebagai balsem, penghobatan kandung empedu, radang hati, demam tinggi, berbagai penyakit mata, sakit kepala akibat liver, memperkuat organ dan indra, mengontrol syaraf, pembiusan alami, pendarahan, menguatkan gigi, dan lain-lain.

Al-Kindi menambahkan beberapa fungsi lainnya seperti, penyembuhan trakom, bisul-bisul, rasa gatal, luka memar, leukoma dan merontokkan bulu mata yang tumbuh di dalam mata.

Avicenna, dengan berbagai eksperimennya yang lebih mendetail mengatakan:

"Jika kafur dipakai sedikit, maka obat ini dapat membantu menenangkan, karena bahan ini dingin. Kadang kala obat ini menurunkan suhu badan yang tinggi akibat badan kurang sehat karena lemah. Efek yang menguatkan dan menenangkan ini disertai efek harumnya. Efek pendinginannya dikurangi dengan kasturi dan ambar, dan kekeringannya dikurangi dengan minyak wangi dan pelunaknya, misalnya minyak cengkeh dan minyak bunga berwarna ungu lembayung. Kafur merupakan penangkal racun, khususnya racun panas. Berkat kafur pikiran menjadi lebih tajam dan terang; oleh karena itu kafur menguatkan dan menyenangkan. Efeknya serupa ambar kuning, tetapi lebih kuat dan lebih bermanfaat." Lihat Ibn Baytar, Traite des Simples par Ibn el-Beithar. Diterjemahkan oleh Dr. L. Leclerc, 3 jil. –Paris: 1881-1887.

Selain bangsa Arab, bangsa Persia juga berdatangan ke tanah Batak untuk meneliti kegunaan kafur dari Fansur ini. Buku tertua mengenai ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia adalah buku Muwaffak al-Din Abu Mansur Ali al-Harawi (abad ke-10 M), yang berjudul Kitab al-Abniya 'an haqa'iq al-Adwiya [Buku mengenao dasar dan kebenaran obat-batan asli].

Dalam bukunya yang berjudul Hidayat al-muta'alimin fi al-tibb (Panduan untuk mahasiswa ilmu kedokteran), al-Bukhori (abad ke-10) seorang mahasiswa Harawi dan dokter terkenal al-Razi (abad ke-9 dan 10 M) berhasil mengembangkan kafur dalam berbagai bentuk resep, sebanyak 31 resep. Salah satunya adalah dalam penanggulanagn penularan penyakit pes.

Orang-orang Yunani, pada zaman Yunani telah terlibat secara intens dengan peradaban Batak, salah satunya dalam pengembangan ilmu kedokteran ini. Salah satu buku yang berhasil ditemukan seperti catatan Actius dari Amide dari abad ke-6 dan ke-7 M, menyebutkan kafur dalam karyanya Libri medicinales.

Bahkan orang-orang Mesir kuno diyakini telah jauh-jauh mendatangi tanah Batak dengan tujuan untuk merempahi mayat. Kontak dengan bangsa-bangsa ini telah terjalin sejak dahulu kala, ditambah lagi dengan kemajuan ilmu kedokteran moderen yang dikembangkan oleh orang-orang Arab, membuat banyak ahli kedokteran mendatangi tanah Batak seperti Armenia, Cina, India dan lain sebagainya.

Dalam ilmu astrologi, tanah Batak merupakan pusat pengembangannya. Banyak bukti-bukti astrologi yang mengarah pada peradaban Batak. Salah satunya adalah informasi yang didapat dari surat pertama dari riga surat karya al-Kind yang berjudul al-rasail al-hikmiyya fi asrul al-ruhaniyya [Risalah-risalah Hukum tentang Rahasia-Rahasia Batin], dikatakan bahwa kafur milik Devi Venus dan digunakan dalam pengasapan yang dipersembahkan kepadanya.

"Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan Venus dari cahaya dan kecerahan; Venus memberi kebaikan dalam smua posisinya … di antaranya batu maha yang dimilikinya; dalam badan manusia, perut dan usus yang dimilikinya; dalam abjad tiga huruf yang dimilikinya ('ain, ha dan kaf); di antara bahan murni untuk pengasapan yang dimilikinya terdapat: ambar abu-abu, qust, tanaman fagara, kafur, bunga mawar kering, laudanum." Lihat, G. Celentano, L.V. Vaglieri, "Trois Epitres d'al-Kindi: textes et traduction avec XIX plaches facsimile des trois epitres", dalam Annali dell Istituto universitario Orientale di Nipoli, jil 34, buku 3 (1974) hal 523-562.

Untuk menutup tulisan ini baiklah kita kutip catatan perjalanan seperti yang dijelaskan di Alf Layla wa layla (Seribu Satu Malam) oleh Sindbad, sang petualang yang terkenal:

"Sesudah bangun keesokan harinya, kami pergi melewati gunung-gunung tinggi ke Pulau Riha yang kaya dengan pohon kafur. Setiap pohon dapat membayangi lebih dari 100 orang. Puncak pohonnya ditoreh dan air yang mengalir darinya dapat mengisi beberapa wadah. Kafur mulai menetes dan tetesannya mirip lem. Sesuadah itu kafur tidak meleleh lagi dan pohonnya menjadi kering." Riha adalah berarti kafur yang bermutu tinggi yang berarti al-Kafur al-Fansuri. Jadi Pulau Riha yang dimaksud adalah daerah Fansur.

By. Julkifli Marbun

0 comments :

Formulir Kontak