Hari Proklamusik

MUSIK
Hari Proklamusik

Ahad dan Senin lalu menjadi hari penting buat komunitas world music di Tanah Air. Mereka kini punya paguyuban resmi.

SEJAK pukul tiga sore, Ahad lalu, Jalan Thamrin dipenuhi warga Jakarta. Mereka menunggu acara rutin saban peringatan hari ulang tahun DKI Jakarta, yaitu karnaval. Itulah hari saat warga Jakarta berdiri di pinggir jalan menyambut mobil-mobil hias dari berbagai instansi di Jakarta.

Tapi, tahun ini Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta menyajikan acara berbeda. Walau judulnya sama, Karnaval Jakarta, materinya jauh lebih berkelas. Iring-iringan mobil hias malah hanya jadi preambul.

Sebagai gantinya, tampil pertunjukan musik sejumlah nama beken. Misalnya Krakatau, Gilang Ramadhan, Djaduk Ferianto dan Kua Etnika, Sapto Raharjo dan Inisisri, Sujiwo Tedjo, Mahagenta, Bamboo Orchestra, Viky Sianipar, Adjie Rao, Angga Tarmizi, Marusja Nainggolan, Syaharani, Didi AGP, dan Riza Arsyad.

Seperti dilaporkan wartawan Gatra Julkifli Marbun, para musisi ini tidak tampil di panggung seperti pada umumnya. Melainkan di pinggir-pinggir jalan, mulai depan Bank Indonesia sampai bundaran Hotel Indonesia. Tentu saja, aksi mereka mendapat perhatian ekstra dari masyarakat yang hadir. Kapan lagi melihat Syaharani dari dekat, bukan?

Ngamen di pinggir jalan itu berakhir pukul 17.00. Seluruh musisi kemudian berkumpul di panggung utama di depan Hotel Indonesia. Pertunjukan di atas panggung berukuran 4 x 10 meter ini adalah puncak karnaval hari itu.

Dari atas panggung, "Raja Monolog" Butet Kertaredjasa membacakan Proklamusik: "Kami, bangsa musik bersemangat lintas budaya, menyatakan kemerdekaan bermusik, hal-hal yang mengenai kualitas bermusik dan lain-lain diselenggarakan atas nama kebebasan kreatif dan diselesaikan dalam tempo yang selama-lamanya sepanjang zaman. Jakarta 25 Juli 2004, atas nama bangsa musik lintas budaya."

Lalu sebuah pertunjukan bernama Jakarta Circle Rhytm of Percussion digelar. Sebanyak 477 pemain perkusi (jumlahnya sengaja disesuaikan dengan ulang tahun DKI Jakarta) memadati panggung itu, sambung-menyambung memainkan peralatan mereka. Ribuan pasang mata yang menyaksikan pertunjukan itu larut dalam goyangan irama perkusi, yang seperti tak berniat berhenti. Pertunjukan tadi pun masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia.

Keesokan malamnya, pendukung acara Karnaval Jakarta itu kembali berkumpul di Jalan Minangkabau, Jakarta Selatan. Di sana, sebuah acara penting menunggu, yaitu peresmian Indonesian World Music Community (IWC). Kontras dengan acara sehari sebelumnya, peresmian IWC berlangsung sederhana (yang meriah adalah pesta ulang tahun ke-28 Viky Sianipar, yang berlangsung di tempat yang sama).

Pengurus IWC pun diperkenalkan satu per satu. Monang Sianipar (ketua), Wawan Juanda (wakil ketua), Gideon Momongan (sekretaris), Marusja Nainggolan (humas), dan Bob Gultom (bendahara). Sebait doa syukur dipanjatkan kepada Yangkuasa sebelum Ketua IWC menyampaikan pidato perdananya.

"IWC dibentuk untuk mempromosikan aliran musik ini kepada masyarakat Indonesia dan dunia," kata Monang Sianipar kepada Julkifli Marbun dari Gatra. "Merdeka dulu-lah, soal bagaimana mengisi kemerdekaan itu, nanti kita pikirkan bersama-sama," ia menambahkan.

Pengurus IWC memang belum membeberkan apa saja program kerja mereka saat ini. Namun, Wawan Juanda memberi isyarat bahwa IWC sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menyelaraskan program mereka dengan kegiatan yang sudah ada. "Dulu kami berangkat sendiri-sendiri. Dengan adanya IWC, semuanya akan digabungkan," katanya.

Wawan mengambil contoh kegiatan MAD Quarter (baca Gatra Nomor 32), acara bertema world music tiap tiga bulan. "Kalau MAD Quarter menjadi sirkuit tempat musisi world music Indonesia memperlihatkan kemampuan, IWC akan berperan sebagai paguyuban untuk menampung para musisi, pemerhati musik, dan sebagainya," papar Wawan.

Kalimat terakhir Wawan bisa diartikan secara harfiah. Pasalnya, kantor pusat IWC adalah juga kompleks bernama Viky Sianipar Music Center. Di tempat itu, para musisi bisa melakukan sejumlah kegiatan musik. "Infrastrukturnya sudah ada. Para musisi tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan mereka," kata Wawan.

Acara malam itu ditutup dengan sejumlah konser dadakan dan jam session. Kelompok The Fly dan Edane ikut naik panggung dan menyumbangkan lagu. Namun, yang paling menarik perhatian adalah jam session yang melibatkan Ron Reeves, Djaduk Ferianto (keduanya memainkan kendang), Sujiwo Tedjo (saksofon), Kompyang Raka (gondang Batak), Inisisri (drum), Marusja Nainggolan (keyboard), dan Eet Syahranie (apa lagi kalau bukan gitar) dalam satu panggung.

Eet yang mewakili musik Barat ternyata bisa juga larut dalam ketukan pentatonik Batak dan Sunda, walau awalnya sempat bingung hendak masuk dari mana. "Sudah sah-lah IWC kita ini," kata Yeppy Romero, dedengkot musik Latin, yang malam itu juga unjuk kebolehan dengan permainan gitar flamenco-nya.

Carry Nadeak

http://gatra.icom/2004-07-30/majalah/artikel.php?pil=14&id=42666&crc=745258849

0 comments :

Formulir Kontak