Breaking News

Saudi Kejar Kemandirian Teknologi Kereta Api


Arab Saudi menegaskan arah baru kebijakan transportasi strategisnya setelah secara resmi mengumumkan gagalnya kesepakatan dengan konsorsium Tiongkok untuk proyek jembatan darat yang menghubungkan Riyadh, Jeddah, dan Dammam. Keputusan ini menandai perubahan pendekatan Riyadh dari sekadar pembangunan infrastruktur menuju kemandirian industri.

CEO Saudi Arabia Railways (SAR) menyatakan bahwa kegagalan tersebut disebabkan ketidakpatuhan konsorsium terhadap syarat keterlibatan konten lokal. Pemerintah Saudi menilai proyek sebesar ini tidak boleh hanya mengandalkan impor teknologi dan tenaga asing tanpa manfaat jangka panjang bagi industri nasional.

Proyek jembatan darat sendiri merupakan tulang punggung logistik Saudi di masa depan, menghubungkan pesisir Laut Merah dan Teluk Arab. Karena itu, Riyadh memandang proyek ini sebagai kesempatan strategis untuk membangun ekosistem perkeretaapian nasional yang berkelanjutan.

Dengan skema baru, proyek akan dilaksanakan secara bertahap dan ditargetkan selesai sebelum 2034. Pelaksanaan bertahap ini membuka ruang lebih luas bagi pengembangan industri lokal, mulai dari perakitan hingga produksi komponen kereta api.

Langkah ini mencerminkan minat kuat Saudi untuk tidak lagi bergantung penuh pada pihak luar dalam pembangunan sistem kereta api. Pemerintah ingin memastikan bahwa keahlian teknis, manajemen, dan teknologi dapat tumbuh di dalam negeri.

Selama ini, Saudi telah memiliki pengalaman operasional melalui proyek-proyek besar seperti Kereta Cepat Haramain dan jaringan SAR North–South. Namun peran lokal masih dominan pada sisi operasional dan perawatan, belum pada manufaktur inti.

Kebijakan konten lokal yang diperketat menjadi sinyal bahwa tahap selanjutnya adalah peningkatan kemampuan industri nasional. Dari pemeliharaan, Saudi menargetkan naik kelas ke perakitan dan produksi komponen secara mandiri.

Dalam konteks ini, peluang transfer teknologi menjadi isu krusial. Riyadh mulai membuka diri terhadap kerja sama dengan negara-negara yang memiliki pengalaman membangun sistem kereta api secara bertahap dan adaptif.

Indonesia muncul sebagai salah satu mitra potensial dalam skema tersebut. Dengan pengalaman panjang membangun dan mengelola jaringan kereta api nasional, Indonesia dinilai memiliki pendekatan yang relevan bagi Saudi.

Indonesia tidak hanya berpengalaman sebagai operator, tetapi juga memiliki industri perkeretaapian melalui PT INKA yang mampu memproduksi rangkaian kereta, gerbong, dan lokomotif untuk pasar domestik dan ekspor.

Keunggulan Indonesia terletak pada kemampuannya melakukan alih teknologi dari berbagai mitra global, lalu mengembangkannya sesuai kebutuhan lokal. Model ini sejalan dengan ambisi Saudi membangun industri kereta api yang mandiri.

Kerja sama Saudi–Indonesia berpotensi difokuskan pada perakitan di dalam negeri Saudi dengan dukungan desain, pelatihan, dan manajemen dari Indonesia. Skema ini dinilai lebih fleksibel dibanding kontrak turnkey.

Selain itu, Indonesia memiliki pengalaman menyesuaikan teknologi rel dengan kondisi geografis dan iklim beragam, sebuah nilai tambah bagi Saudi yang menghadapi tantangan gurun dan suhu ekstrem.

Dari sisi geopolitik, kemitraan dengan Indonesia juga memberi keuntungan strategis bagi Saudi. Hubungan kedua negara yang relatif netral dan stabil membuka ruang kerja sama tanpa beban politik besar.

Bagi Indonesia, peluang ini dapat memperluas peran industri nasional di tingkat global. Transfer teknologi dua arah juga memungkinkan peningkatan kapasitas produksi dan standar kualitas.

Sementara bagi Saudi, kerja sama semacam ini mempercepat proses pembelajaran menuju kemandirian tanpa harus memulai dari nol. Fokusnya bukan hanya membangun jalur rel, tetapi membangun kemampuan nasional.

Analis menilai kebijakan ini selaras dengan Visi 2030 yang menekankan diversifikasi ekonomi dan industrialisasi. Infrastruktur tidak lagi dipandang sebagai proyek fisik semata, melainkan sebagai motor pengembangan industri.

Meski demikian, tantangan tetap besar. Saudi perlu menyiapkan sumber daya manusia, regulasi industri, dan rantai pasok lokal agar ambisi tersebut dapat terwujud.

Penolakan terhadap konsorsium Tiongkok menjadi sinyal bahwa Saudi bersedia mengorbankan kecepatan demi kualitas dan kemandirian jangka panjang. Langkah ini dinilai berani namun strategis.

Dalam satu dekade ke depan, jika konsisten, Saudi berpeluang bertransformasi dari pasar konsumen menjadi produsen regional sistem kereta api. Perubahan ini akan menggeser peta industri transportasi di Timur Tengah.

Dengan pendekatan baru yang lebih selektif terhadap mitra dan fokus pada transfer teknologi, Saudi menegaskan bahwa masa depan perkeretaapian nasional akan dibangun oleh tangan mereka sendiri, dengan dukungan mitra yang sevisi.