Rico Marbun

Rico Marbun
Diselamatkan Kalimat Dzikir
Hidup ini hanya sekali, dan itu harus betul-betul dibuat berarti. Itulah filsafat hidup anak muda bernama Rico Marbun.

Reformasi jangan pernah berhenti! Ketika tindak-tanduk para petinggi negeri ini mulai melenceng dari tujuan reformasi, rakyat dan terutama mahasiswa pun bergerak. Mereka kembali turun ke jalan seperti ketika lima tahun lalu berhasil menggulingkan kekuasaan otoriter Soeharto. Salah satu yang berada di garda terdepan barisan mahasiswa ini tersebutlah nama Rico Marbun, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI.

Rico memang gambaran sosok aktivis mahasiswa tulen. Rela berpeluh-peluh di terik panas matahari meneriakkan yel-yel perjuangan reformasi. Tak gentar dipukuli aparat namun tetap mengedepankan amanat rakyat. Bersama ribuan rekan seperjuangan yang lain, Rico kembali aktif berdemo coba mengembalikan cita-cita reformasi ke arah yang benar.

Baginya, kehidupan demo jalanan merupakan kewajiban moral sebagai mahasiswa. Rico yang sudah aktif berorganisasi sejak masa SMA, menilai masa-masa mahasiswa tidak bisa dilewatkan begitu saja. Bukan sekadar prestise, tapi lebih untuk menimba ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya.

Karena itulah, sejak semester awal dia telah aktif di kegiatan kemahasiswaan. Mulai dari tingkat jurusan, fakultas hingga universitas. Tercatat dia pernah menjadi staf ahli mahasiswa jurusan fisika MIPA, ketua departemen sospol senat fakultas MIPA, Ketua Senat MIPA sampai akhirnya terpilih sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI setahun lalu.

Akan tetapi, lebih jauh dari itu, semangatnya dalam menegakkan kedaulatan rakyat, juga didorong oleh perintah agama. ''Hidup ini hanya sekali dan itu harus betul-betul dibuat berarti,'' kata Rico.

Jadilah dia kemudian berpegang jangan sampai hidup yang sebentar ini tidak bisa dimanfaatkan untuk hal berguna bagi masyarakat, agama, dan bangsa. Menurutnya, orang yang kerdil adalah orang yang hidup untuk dirinya sendiri. Sedangkan orang yang besar dan bisa mencatatkan sesuatu di tinta sejarah adalah yang hidup buat orang lain.

Rico menegaskan, mahasiswa bukanlah golongan ekslusif atau strata tertentu dari masyarakat. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang lahir bagi masyarakat. Mahasiswa bukan untuk menjadi kalangan profesional semata, namun harus turut membangun masyarakat sekitar.

Keyakinan agama yang kental seperti ini agaknya dapat dimengerti bila menengok ke masa lalu Rico. Dari penuturannya, kehidupan religiusnya terbentuk lewat perjalanan panjang. Terlebih sebelumnya Rico adalah non-Muslim. Dia berasal dari keluarga 'campuran'. Ayah Protestan, ibu Muslimah. Mereka tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Lingkungan tempat tinggalnya jauh dari nafas agamis.

Masa kecil dihabiskan tanpa punya satu pegangan agama yang kuat. Natalan ikut, Lebaran ikut. Tapi kemudian dia condong mengikuti agama sang ayah. Kondisi ini baru berubah setelah mereka pindah ke Jakarta awal tahun 1990-an.

Tidak seperti tempat tinggal dulu, Jakarta merupakan sumber informasi dan komunikasi. Media massa pun bertebaran menyajikan suguhan berbagai ragam acara dan kegiatan. Pada satu hari di saat santai, Rico yang kala itu duduk di kelas 1 SMP, secara tak sengaja menangkap gelombang radio yang sedang menyajikan acara ceramah agama Islam.

Seorang dai membawakan ceramah itu secara lugas dan tegas, mengenai keesaan Allah dan kebenaran dalam Islam. Makin lama, makin bermakna. Hingga, Rico pun tak kuasa untuk memindahkan gelombang radionya. ''Saya langsung tertarik betul dengan penyampaian dan penjelasan soal Islam oleh ustad itu,'' ia mengenang.

Seiring dengan itu, tanpa sadar dirinya mulai merasakan takut terhadap neraka, ingin mendapatkan surga, dan ingin mempertanyakan kembali mana agama yang benar. Dia menganggap masalah agama bukan hal sederhana. Agama bisa membawa manusia hidup bahagia atau sengsara. Agama melekat sampai mati.

Akhirnya, mulai SMP kelas 1 dan 2, dengan pikiran yang masih sederhana, Rico merenungi dua hal tentang agama. Yakni konsep ketuhanan dan kitab suci. Dua hal yang menjadi patokannya dalam mencari kebenaran agama. ''Dua hal itu sangat sederhana. Konsep ketuhanan merupakan suatu yang mutlak dan harus bisa dijelaskan secara gamblang, sementara kitab suci harus benar-benar suci,'' katanya.

Mahasiswa semester 10 ini menceritakan, dia kemudian banyak membaca buku perbandingan agama, mempelajari Alquran, dan pergi ke pengajian. Rico pun tetap membaca ajaran agama lamanya. Semuanya dipelajari. Di samping itu dia banyak terlibat diskusi soal agama, terutama dengan sang ayah dan para pastor. Nah, diskusi dan dialog inilah yang paling seru.

Rico mengingat hingga tiga kali dia berdiskusi dalam tingkatan 'panas' dengan seorang pastor. Pastor itu marah besar tatkala ia membantah konsep ketuhanan yang dijelaskannya. Muncul pertanyaan, kenapa tuhan harus berbentuk manusia. Sang pastor menerangkan kalau dimisalkan kita melihat semut yang kakinya patah, maka untuk membantu mengobatinya adalah harus menjadi semut juga. Rico mengernyitkan dahi mendengar jawaban tersebut. ''Itu kan lucu, kenapa tuhan harus jadi semut, apa dia tidak bisa menyelesaikan itu dengan kekuasaannya.''

Pun dengan ayahnya yang kerap menjemputnya usai pulang sekolah di SMA 26 Menteng, Jakarta Pusat. Sampai masa tertentu ayahnya juga marah besar karena anaknya terlalu banyak bicara. Sejak itu, tiada hari tanpa berdebat soal agama.

Cukup lama waktu dihabiskan untuk berdialog dan berdebat mengenai agama. Dua tahun musti dilaluinya hingga sampai pada kesimpulan Islam-lah agama paling benar. Dibimbing ibundanya, Rico pun meneguhkan diri mengucapkan Dua Kalimat Syahdat. Proses Islam-nya ini tidak terlalu banyak menemui kesulitan berarti.

Dia justru menyatakan, tantangan terbesar adalah bagaimana mengislamkan bapaknya. Seperti dirinya pula, upaya ini butuh waktu lama dan kesabaran. Hal yang sama dilakukan oleh saudara-saudaranya yang lain. Mereka bahu-membahu. Setelah lima tahun, barulah usaha berbuah hasil. Sang ayah terketuk hatinya dan memilih memeluk Islam sewaktu Rico baru masuk kuliah.

Satu kenikmatan lagi tidak bisa dilupakan ketika keluarga ini melaksanakan sembahyang Maghrib berjamaah pertama kali dipimpin sang ayah. ''Rasanya trenyuh bercampur gembira. Saya belum pernah merasakan nikmat seperti itu,'' Rico menuturkan. Usai shalat, satu keluarga pun saling berpelukan dan menangis haru.

Kian teguhlah Rico pada Islam. Keharmonisan keluarga menambah keyakinan beragamanya bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Setiap detik waktu dihitung dan segala perbuatan akan di-hisab. Dia makin percaya seorang Muslim harus bermanfaat bagi lingkungannya dan jangan takut memperjuangkan kebenaran. Prinsip yang dipegangnya hingga kini.

Ajaran agama kental melandasi perjuangannya. Satu Hadis Nabi menjadi pegangan kunci. ''Ketika sedang berjuang jangan lepas mengucapkan dzikir,'' ujarnya mengutip Hadis.

Subhanallah, kekuatan kalimat dzikir pernah dirasakannya langsung. Diceritakan, dia ingat betul saat awal-awal terpilih menjadi ketua BEM. Satu hari di bulan Oktober 2002, Rico memimpin aksi demo di depan Gedung DPR-RI, menuntut pembentukan Pansus Buloggate II. Ribuan mahasiswa tumpah ruah di sana. Namun, aksi mereka dihadang ratusan aparat keamanan. Hari bertambah siang dan suasana kian memanas. Bentrokan hebat antara mahasiswa dan aparat keamanan tak terelakkan.

Posisi Rico kala itu sangat tidak menguntungkan. Dia berada di baris depan mahasiswa dan berhadapan dengan aparat. Dengan garang, pukulan dan tendangan saling melayang. Demikian pula lemparan segala benda keras. Puluhan mahasiswa terluka, begitu pula Rico terkena pukulan rotan. Akibat hantaman ini, kacamatanya terlepas dan pecah.

Pandangannya menjadi kabur. Padahal suasana makin tak terkendali. ''Saya tinggal sendirian dikepung aparat dan tinggal ditangkap. Saya tidak bisa berbuat apapun selain mengucap kalimat dzikir dan takbir sekeras-kerasnya,'' urai Rico.

Tiba-tiba tanpa disadarinya, selagi lantang mengucap dzikir, dirinya serasa ditarik entah oleh siapa keluar dari kepungan dan kembali ke barisan mahasiswa. ''Saya tidak tahu siapa yang narik saya waktu itu, mungkin teman-teman atau siapa pun. Tapi yang pasti saya merasakan satu pertolongan Allah,'' tandasnya.

Dari pengalaman itu, Rico mengambil hikmah bahwa pertolongan Allah akan datang ketika situasi genting. Namun yang terpenting, manusia jangan hanya mengharapkan pertolongan saja tanpa ada upaya. Satu hal lagi. Kini dia kian mantap Allah ada di atas segalanya. Umat tidak perlu takut terhadap siapapun kecuali pada Allah. Keyakinan ini sudah ia buktikan ketika ia memimpin demo dan bahkan hingga harus berurusan dengan pengadilan sekalipun. n yusuf assidik


BIODATA

Nama : Rico Marbun
Kelahiran : Balikpapan, 24 Maret 1981
Nama ayah : Robert Marbun
Nama ibu : Suparni
Pendidikan : - SMP 15 Menteng Dalam Jakarta Pusat
- SMA 26 Tebet Jakarta Selatan
- Fakultas MIPA jurusan Fisika UI
Organisasi : - Ketua Senat Fakultas MIPA UI
- Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UI ()

0 comments :

Formulir Kontak