Kangen Pakkat

Perlahan aku buka kembali memori-memori tentang kampung halamanku; Pakkat. Sebuah CD dan beberapa foto mengenai kehidupan sewaktu kecil dan dokumentasi kepulangan ke Pakkat.

Aku tarik nafas. Sugguh indah memang. Bila kita mengabadikan momen-momen penting dalam hidup kita. Betapa tidak. Dengan menonton CD, yang berisi liputan keluargaku ketika pulang ke kampung, semua kembali seperti sebuah realita.

Keceriaan yang nampak diwajah nenek putriku, ibuku yang selalu memberi inspirasi bagi anak-anaknya. Acara salam-salaman sebelum berangkat ke mesjid untuk sholat Ied. Yah, hari itu memang hari Idul Fitri dimana banyak keluarga yang merantau ke negeri jauh, menggunakan hari libur mereka untuk kembali bersama keluarga di Bonapasogit.

Kenangan lainnya juga mengarah kepada keceriaan waktu kecil. Saat-saat mengaji, belajar membaca Al Qur’an dan tentunya mengkaji beberapa topik keagamaan, seperti fiqih, akhlaq, bahasa Arab dan Tauhid.

Mas Isma’il Simanjutak, yang menjadi kakak kelas merupakan murid paling pintar saat itu merupakan leader kami-kami yang menjadi anak bawang. Sekarang dia telah menjadi ustadz dan pemimpin rohani di mesjid raya islamiyah, Pakkat. Ust. Mas, begitu dia dipanggil tinggal bersama keluarganya di kompleks mesjid yang dibangun gotong-royong oleh beberapa generasi parsulam (muslim) sejak zaman dahulu kala.

Dulu, ini adalah mesjid satu-satunya yang paling berkembang di Pakkat. Pada bulan ramadhan akan dilakukan acara paket ramadhan, dimana semua parsulam dari seantero negeri datang. Di Pakkat yang disebut sebagai negeri Rambe, terdapat beberapa kampung dan desa yang dihuni oleh parsulam. Mereka yang dari Siniang, Laksa, Sihombang, Temba, Tukka, Panigoran, Aek Sopang, Tolping dan lain sebagainya akan datang berduyun-duyun ke Pakkat untuk melaksanakan sholat tarawih bersama.

Dari negeri Siambaton, Hutambasang, Siantar Dairi, Aek Riman, Tarabintang dan negeri-negeri lainnya akan ikut meramaikan suasa bulan suci tersebut. Sekali setahun, bulan ramadhan digunakan oleh masyarakat parsulam untuk beramah-tamah sekaligus bersilaturrahmi.

Beberapa temanku yang mempunyai prestasi mengaji saat itu masih teringat di benakku. Ada Mustafa Sinaga, seoarang yang mempunyai faham yang aneh menurut kami karena kalau bukan dia yang menjadi iman sholat dia tidak akan mau menjadi makmum. Menurutnya, dialah yang paling berhak menjadi imam karena dia telah dikhitan dan sudah akil baligh. Yah, dia memang yang paling tua di kelompok pengajian generasiku tersebut.

Yang lain tentunya Mas Ismail Simanjuntak yang memang menguasasi beberapa hukum-hukum fikih dan matan-matan hadits. Dialah yang selalu tampil gemilang dalam pengajian yang dilaksanakan setelah pulang sekolah tersebut. Di pagi hari Mas Simanjuntak menjadi murid SD II Negeri, Pakkat yang terletak di Lobuan. Keluarganya memang religius. Ayahnya merupakan tetua agama yang dihormati dalam wirid-wirid dan majlis taklim.

Satu lagi adalah Sholahuddin Samosir, anak yang taat kepada orang tuanya. Walau umurnya masih dibawah 11 tahun, dia telah menjadi andalan orag tuanya untuk memperbaiki truk, mobil dan motor di bengkel ayahnya. Dia mempunyai pengetahuan yang luas mengenai agama tapi tidak terlalu menguasasinya. Sekarang dia bekerja sebagai PNS di sebuah pengadilan agama di kabupaten lain.

Abangku, Jubeir Marbun, merupakan qari andalan ustad kami Ibrahim Lubis, bersama qari lainnya, yaitu anak serba bisa yang bernama Ismail Simanjutak itu. Ada lagi yang bernama Bahra Simanjuntak yang bersama beberapa sekeluarga merupakan aktivis mesjid yang paling disegani di Pakkat.

Tidak lupa saya sebutkan, Ahmad Purba. Seorang kartunis yang menjadi anak tercepat mengkhatamkan Al Qur’an. Kartun buatannya terutama bertema silat dan peperangan. Wajahnya agak keindo-indoan, lebih mirip bule daripada batak. Namun jangan salah sangka, keluarganya merupakan generasi keturunan raja Purba yang menjadi pendiri negeri Rambe. Karena itulah, semua klan Purba di Pakkat sangat dihormati dan rata-rata mereka menjadi tuan tanah yang menguasai hampir seluruh wilayah Pakkat.

Beberapa diantara mereka menjadi kelas borju di masyarakat. Keluarga S. Murni Purba misalnya merupakan keluarga terkaya di kampung yang sering menyumbang untuk operasional mesjid. Ada juga Tuan Qadi Purba, yang dulu menjadi penghulu di Kantor Urusan Agama. Anak-anaknya banyak menjadi raja-raja diberbagai desa atau paling tidak sebagai kepala desa.

Oh yah, sebenarnya ada temanku mejadi kartunis paling jago. Hanya saja dia tidak terlalu serius mengikuti pengajian. Menurut teman-temanku, itu karena mereka adalah komunitas pertama yang menganut Islam di Pakkat dan dan membawanya ke daerah Batak lainnya jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di sini. Dia adalah Hermansyah Hutagalung. Seorang yang low profile dan sangat setia dengan hobbinya menggambar. Sekarang dia berdomisili di Australia bersama istri bulenya yang telah diajaknya masuk Islam. Keluarga Hutagalung ini, sangat disegani oleh kalangan parsulam karena komitmen kedua orang tua mereka untuk kemajuan bersama. Di desa Pulo Bali atau yang sering disebut Sinamo, mereka mewakafkan tanahnya untuk membangun sebuah mesjid yang disebut orang sebagai mesjid Pulo Bali.

Komunitas parsulam di Pakkat sangat senang dan bahagia menyambut bulan suci ramadhan. Karena di bulan inilah mereka dapat berkomunikasi satu sama lainnya. Di bulan yang lain semua orang akan sibuk dengan pekerjaan mereka di sawah. Kegembiraan itu akan bertambah seiring dengan datangnya para parsulam lain ke Pakkat. Para Parsulam marga Manalu, Simbolon, Situmorang, Tinambunan (Tambunan) dari Hutambasang. Parsulam marga Malau, Mukkur, Mehe dan Barasa dari negeri berbahasa Dairi seperti Napa Singkam, Napa Horsik, Tarabintang dan lain sebagainya. Di Tarabintang ada Hamzah Simamora yang menjadi pengajar di Pesantren Al Kautsar Al Akbar Lae Toras. Dari Tolping dan Siranggason akan datang parsulam marga Sihotang dan Sinaga. Dari Siniang akan datang marga Marbun, Simatupang, Pandiangan dan lain sebagainya. Semuanya menyatu untuk kebersamaan.

Tahun 1986, dalam bulan ramadhan pernah diadakan MTQ tingkat kabupaten Tapanuli Utara di Dolok Sanggul. Dolok Sanggul pada waktu itu hanya sebuah kecamatan di Taput. Sekarang menjadi ibukota kabupaten Humbang Hasundutan. Pakkat mengirimkan tim dan kafilahnya. Terdiri dari anak-anak SD berlainan dengan utusan dari kecamatan lain yang sudah dewasa dan banyak yang telah profesional.

Sebenarnya Pakkat dapat saja meminta bantuan dari kalangan parsulam Parmonangan yang sangat banyak generasinya yang full time sekolah agama. Para parsulam marga Gajah tersebut akan banyak mendongkrak prestasi Pakkat. Namun, mereka sedang tidak libur dari sekolah mereka di Peanornor Tarutung; tempat digemblengnya para da’i di tanah Batak.

Akhirnya tim Pakkat dikalahkan oleh utusan dari kecamatan lainnya. Para Qari dan penafsir Al Qur’an marga Simamora, Gultom dan lain sebagainya dari Dolok Sanggul. Para parsulam marga Napitupulu, Simatupang dan lain sebagainya dari Porsea, Samosir dan Balige lebih menguasai hukum-hukum fiqih daripada kami yang masih usia sekolah dasar. Yah, Islam di pusat tanah Batak telah berkembang lebih dulu secara terstruktural sejak abad-15. Di Pakkat sendiri Islam tidak berkembang secara sistematis, selain hanya menjadi agama beberapa individu saja sejak abad 17.

Cklek.... vcdku mati. Ternyata durasi Cdnya yang 30 menit sudah terlewatkan. Banyak kenangan manis yang aku dapat hari ini.

0 comments :

Formulir Kontak