Partejjuan

Partejjuan adalah nama sebuah tempat antara pasar dan paccur hauagong di Pakkat, kampung halamanku. Paccur adalah pansur atau pancur tempat pemandian umum. Dahulu kala tempat tersebut hanyalah sebuah mata air besar yang menghasilkan air untuk sungai di sampingnya. Oleh masyarakat mata airnya dibendung dengan bak sekitar 4 X 10 meter luasnya, sehingga menjadi sebuah bak raksasa.

Di dindingnya sebelah barat, ditempelikan pipa yang menjadi pancuran tempat mandi. Sekitar lima meter panjangnya dibuat pembatas yang membedakan tempat lelaki dan perempuan. Bagian utara, yang lantainya dipenuhi air sebelum jatuh ke sungai adalah tempat perempaun dan yang dangkalnya tempat lelaki.

Partejjuan tersebut terletak di tanah marga Sihotang yang kami sebuat Oppung Partukangjait. Karena dia memang berprofesi sebagai tukang jahit sejak masa mudanya. Sekarang dia sudah bercucu banyak, bahkan anaknya sudah banyak yang punya cucu pula.

Disebut partejjuan karena di sana, di belakang rumah Oppung Sihotang tersebut ada tanah luas yang menjadi tempat bermain anak-anak. Di sela-sela waktu bermain sering kali ada orang yang berselisih pendapat di luar sana dan datang ke tempat tersebut untuk ‘menyelesaikan’ masalahnya. Menyelesaikan di sini dengan cara “fighting” atau adu jotos atau ‘martejju’ dalam bahasa kami.

Kehidupan di Pakkat memang keras. Tapi bukan berarti tidak ada hukum di sana. Terkadang ada masalah atau perkara yang tidak seharusnya diberikan kepada polisi. Misalnya perkara adu mulut. Bila perselisihan adu mulut karena kambing lepas atau karena sampah diselesaikan polisi, kayaknya tidak terlalu pas atau sesuai menurut pandangan orang setempat kala itu.

Bagi anak muda, sekitar umur 4-30 tahun, partejjuan digunakan untuk adu tanding siapa yang kuat diantara mereka. Sehingga semua orang tahu siapa ‘parbetengan’ yang merajai pergaulan. Sesuai dengan tingkatan umurnya. Seorang yang dianggap besar dengan tubuh yang kekar, tentunya akan malu berhadapan dengan anak ingusan dengan tubuh yang kerempeng.

So setiap orang menurut tingkatan umurnya, atau kesesuaian ‘kelas’ atau juga sesuai egonya. Dari sini akan diketahui sampai dimana level pergaulan seseoarang. Tentu, adu jotos bukan satu-satunya cara untuk mengetahi tingkat “keperkasaan atau kejanntanan” pergaulan seseorang. Partejjuan adalah salah satu cara dari sekian banyak cara untuk mengetahuinya.

Aku ingat, waktu kelas empat sekolah dasar, hanya ada empat orang yang paling kuat di kelas kami. Hal ini diketahuo karena mereka sudah pernah “saling mengukur” kemampuan mereka dalam ajang adu jotos tersebut. Pertama ada Ridwan Simbolon, sekarang tinggal di Jakarta. Yang kedua Agus Silaban, sekarang yang menguasai anak muda di Pakkat. Bisa juga disebut sebagai tokoh pemuda, alias premannya. Yang ketiga adalah Hotasi Marbun. Yang terakhir ini aku tidak tahu khabarnya. Dia seoarang pesepakbola dengan teknik bermain yang cukup tinggi untuk seumurannya. Saya pernah menyaksikan sendiri, bagaimana dia melewati enam sampai tujuh orang untuk akhirnya membuat gol.

Khabar terakhir yang aku tahu dari dia adalah bahwa dia pernah mengalami kecelakaan di Jakarta dan tidak pernah aktif di olah raga sepakbola lagi. Abangnya, Lindung Marbun, juga atlet sepak bola sekaligus bola volly dan bulu tangkis. Keluarga mereka adalah keluarga yang hobbi olahraga.

Suatu saat, 1987, aku mempunyai perselisihan dengan seorang teman. Seorang teman yang sebenarnya adalah teman akrabku. Teman duduk satu meja sejak kelas satu. Sejak perselisihan tersebut teman semejaku adalah Bangun Panggabean. Sekarang dia mekanik pada bengkelnya sendiri di Sibolga.

Nama teman yang menjadi lawanku tersebut adalah Halaccon. Dia seoarang yang lucu dan anak main, suka melecehkan tapi tidak suka dilecehkan. Aku sering menemaninya ke gereja HKBP Hauagong untuk bermain, petak umpet atau pukkul (kelereng), selepas aku mengikuti pengajian di mesjid dan madrasah di sore hari.

Mula-mula dia menggunakanku sebagai bahan olokannaya. Di pagi hari sebelum masuk sekolah, aku sudah merasa muak dengan tindakannya yang justru tidak dihentikannya. Saat masuk kelas, kejadian tersebut diulanginya lagi. Dia tampakya senang melihat teman-temanku yang lain menertawaiku dengan lelucon-lelucon yang bagi sebagian temanku lainnya justru sangat menjijikkan.

Teman-temanku yang lain, ada yang berbisik kepadaku, agar aku membiarkan dia mengejekku sepanjang hari tapi nantinya aku harus menantangnya “adu jotos” di partejjuan.

Ternyata dia setuju. Aku sempat khawatir juga. Apalagi ini di sekolah. Bisa-bisa orang-tuaku malah membantaiku. Memang begitu, ayah ibuku tidak pernah mentolerir kami membuat keonaran walau kami, anak-anaknya, hanya bertujuan untuk membela diri, kalau tidak, mereka tidak perduli siapa yang salah, kami akan dicampuk dengan kabel antena TV.

Namun, karena sudah terlanjur, aku menawarinya untuk menyelesaikannya di partejjuan di belakang pasar saja. Itu partejjuan yang di belakang rumah Oppung Sihotang. Akan tetapi dia malah mengajak di partejjuan terdekat. Yaitu di sebuah kebun karet, kira-kira 200 meter dari sekolah kami. Yang lain bersorak mengiyakan. Mereka beralasan kalau di partejjuan hauagong tersebut, tempatnya sangat jauh dan tidak mungkin akan terlaksana.

Partejjuan di kebun karet tersebut memang arena adu jotos untuk anak sekolah. Tingkat SD dan SMP yang berada di sekitarnya. Waktu adu jotos dimulai sepulang sekolah sehingga bisa saja akan banyak penontonnya.

Peraturan berantam tersebut adalah, adu jotos akan diberhentikan apabila salah satu sudah menyerah kalah atau kalau salah satu kontestan telah terluka parah dengan berdarah misalnya. Satu lagi peraturannya; tidak boleh memakai senjata atau melempar pakai batu atau memukul pakai kayu.

Jam 13.30 tepat saat pulang sekolah, kami sudah berkumpul di sebuah tempat yang teduh di bawah dan di antara pepohonan karet. Puluhan anak-anak berseragam SD dan SMP berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut. Biasanyan, adu jotos akan dimulai oleh mereka yang SMP baru mereka yang SD. Namun kayaknya, hari ini hanya ada satu pasang kontestan dan itulah yang membuatku khawatir bercampur geram dengan adrenalin yang sudah mulai bangkit. Ini berarti, pertunjukan ini akan berakhir lama, sampai habis-habisan.

Teman-temanku saling berteriak memberikan semangat. Sepertinya hanya sedikit dari mereka yang menginginkan kebenaran. Siapa yang benar yang diantara kami. Kebanyakn malah ingin melihat ‘adu jotos’nya saja sebagai hiburan sepulang sekolah.

Anak-anak SMP malah memanas-manasi kami berdua dengan teriakan pengecut, banci dan penakut yang malah membuat emosi kami semakin meninggi. Aku berusaha untuk menjelaskan kembali kepadanya duduk masalahnya. Aku tidak ingin memualai adi jotos ini, bila tidak jelas siapa yang salah dan siapa yang benar.

Pukkkk.... Pakkkk tiba-tiba dua atau beberapa kali pukulan bertubi-tubi ke wajahku. Sepertinya dia ingin mencari siapa yang benar dengan cara berantem. Siapa yang menang dia yang benar. Belum sempat aku komplen dengan sikapnya tersebut, beberapa pukulan telah mendaratlagi beberapa kali di wajahku.

Sekonyong-konyong aku ambruk. Kepalaku pusing dan pening. Serasa beban ratusan kilogram menindih wajahku. Pering ada di mana-mana. Di Semua sudut wajahku. Aku berusaha merabanya, beruntung, tidak ada yang berdarah. Berarti acara tetap berlangsung. Kuurungkan niatku untuk memprotes permulaaan adu jotos tersebut. Biasanya, ada jotos tidak dapat dimuali sebelum aba-aba diteriakkan. Ini untuk menghindari saling mendahului dalam memukul sehingga ada yang merasa dicurangi dan dirugikan. Karena dalam adu jotos yang liar seperti ini, yang menang adalah yang menyerang dan memukul duluan. Lawan akan merasa panik dan tidak bisa melawan. Kecuali dia akan meminta berhenti dan mengalah.

Setelah aku terjatuh untuk ketiga kalinya, aku melihat teman-teman sudah tidak berteriak lagi. Ada yag berbisik ada yang terdiam dan ada pula yang terang-terangan menunjukkan rasa kasian kepadaku. Aku semakin terhina di depan orang-orang tersebut. Dan Halaccon, semakin beringas dengan nafasnya yang semakin berat serta raut wajah yang dibuatnya semakin mengerikan nan menyeramkan.

Saat orang-orang telah menunjukkan kepesimisannnya dengan aku, seorang diantara mereka berteriak untuk berhenti. Dia tidak suka melihat adu jotos yang tidak seimbang tersebut. Dia adalah Langge Sihombing, siswa SMP yang menjadi parbetengan di semua anak-anak level SMP. Badannya yang besar dan kekar membuat semua orang takut dan segan kepadanya.

Aku mulai bernafas lega sambil memegangi wajahku yang terasa semakin perih. Tapi tidak berdarah. Karena pukulannya hanya mengenai jiidad, pipi, dagu dan telingaku yang sudah berbungi “ngiiiiiing” melengking. Mungkin gendang telingaku goyang.

Namun, lucunya Halaccon menolak untuk menghentikan adu jotos tersebut. Langgepun marah, terlihat diwajahnya rasa kesal dan amarah yang memuncak. Saat Halaccon akan menggempurku lagi, Langge berteriak keras yang memberiku semangat, “Libasss Jul!!!! Jangan kasih ampun!”

Teriakan itu seolah memberiku semangat. Aku menangkis ‘strike’ kanannya dengan tangan kiriku dan sekaligus memegang kepalanya. Dan saat itulah aku mendaratkan pukulanku berkali-kali ke wajahnya. Aku tidak berhenti sampai aku melihat muncratan darah di baju putihku. Aku berhenti dan melihat darah disekujur tubuhku. Lengan kananku penuh dengan darah merah. Jantungku seakan berhenti. “Apakah aku sudah membunuh anak orang?”

Semua orang spontan berteriak. “Berhenti!!!...sudah-sudah....” Beberapa orang memegangiku yang sedang terpaku. Dan beberapa orang lagi mengangkat Halaccon yang sudah tidak berdaya.

“Allahu Akbar.... Lailaha illallah....” teriak Halaccon tiba-tiba bangkit. Kali ini seperti kesetanan dengan mata dan wajahnya yang penuh darah dari hidungnya. Aku ingat di Pakkat memang, rata-rata masyarakat mempunyai azimat dan tabas-tabas untuk berjaga diri dan untuk memotivasi diri untuk memenangi perkelahian. Tabas-tabas yang paling mujarab dan paling jitu adalah yang kalimat yang memakai Allahu Akbar dan Lailaha illallah. Tabas ini sering ditampilkan saat Sisingamangaraja XII akan memulai memimpin pejuangnya untuk penggempur pertahanan Belanda. Selain dapat memberi kekuatan juga menambah kekebalan. Salah satu azimat yang lain yang lebih manjur adalah tabas yang dimulai dengan kailmat “Bismillahirrahmanirrahim” kalimat yang juga dipakai oleh dukun atau datu-datu kristen dan muslim dalam mengobati pasiennya.

Melihat pertandingan tersebut akan berakhir brutal, tentunya, bukan seperti yang diharapkan banyak orang, Langge langsung menarik tanganku dan spontan menyeretku keluar dari arena. Dia membawaku menjauh dari Halaccon yang sedang mengamuk sambil kerasukan dengan bacaan-bacaan yang justru aku hafal juga di pengajian kami.

Langge, yang bergereja sama dengan Halaccon, membawaku lari dan pulang ke rumah dari rute yang tidak biasa. Rumahnya memang kebetulan dekat dengan rumahku. Selama perjalanan pulang hatiku tidak pernah kosong dari pertanyaan dan harapan. Semoga Halaccon baik-baik saja.

Sekarang, bila aku berjumpa dengan Halaccon, dan menceritakan peristiwa tersebut, dia akan tersenyum dan tertawa.

0 comments :

Formulir Kontak