Terlalu Diam, Banyak Omong

PENDIDIKAN
Terlalu Diam, Banyak Omong

Dengan tujuan, fokus, dan besarnya yang bervariasi, sejumlah perusahaan memberikan beasiswa kepada mahasiswa. Bagaimana kiat mendapatkannya?

MENGENAKAN celana panjang warna gelap, kemeja putih, dan jilbab hijau. Wajahnya tanpa polesan kosmetik. Gadis kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, 5 Januari 1978, bernama Yulia Kurniawati ini memang tampak tak beda dengan perempuan lainnya. "Saya orang biasa yang lulus dengan kebiasaan saya," Yulia mengungkap rahasianya menggondol program beasiswa magister manajemen dari Sampoerna Foundation (SF).

Yulia boleh menilai dirinya biasa. Tapi kepiawaiannya membuat tim panel pewawancara dari Magister Manajemen (MM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, kesengsem. Lulusan Fakultas Manajemen Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang, itu ingat satu momen penting dalam tes wawancara. Saat itu, Yulia ditanya perihal rencana lima tahun ke depan selepas studi MM. Ia segera menyodorkan tiga rencana, plus siasat apabila gagal.

Rencana pertama, bekerja pada perusahaan multinasional selama dua tahun. Lalu pulang kampung untuk membuka lapangan pekerjaan dari hasil kerja dua tahun itu. Bila gagal, masuk rencana kedua: pulang kampung dan langsung membuka lapangan kerja. Jika gagal juga, pulang kampung dan nyambi jadi dosen. Uniknya, dalam ketiga rencana itu ada unsur "pulang kampung". Rencana ini diambil Yulia sebagai respons membanjirnya anak-anak muda ke kota. "Tak ada lagi yang membangun desa," katanya, heroik.

"Oh, rupanya kamu ingin menjadi Ibu Theresa," komentar seorang penguji. "...Saya belum pernah membaca kisah Ibu Theresa," jawab Yulia, tangkas. "Saya tidak sedang menyulam angan, melainkan sebuah bisnis dengan 10 pekerja. Tidak muluk," ia melanjutkan. Akhirnya, "Selamat Yulia, Anda layak mendapat beasiswa," kata penguji.

Menjadi diri sendiri, kata Yulia, amat penting dalam menjalani tes wawancara. Tentu, "diri sendiri" yang dimaksud adalah pribadi yang tangguh dan trengginas. Menjawab rencana ke depan, bagi Yulia, haruslah mengakar di rumput. Artinya, rencana mesti objektif dan realistis. Bukan impian di awang-awang yang sulit digapai. Lebih gawat lagi jika si pelamar beasiswa ternyata tak mampu menggariskan rencananya ke depan.

Yulia hanyalah anak seorang petani. Ketika masih kuliah, gadis yang jago menggambar ini nyambi mendesain tas dan stiker. Hasilnya lumayan untuk menambal kebutuhan hidup. Karena kefakirannya, ia tak pernah membayangkan bisa kuliah di MM UGM yang biayanya Rp 40 juta. Namun, beasiswa SF membuatnya tak lagi pusing soal biaya. Nah, di saat lembaga pendidikan makin komersial dan tidak terjangkau kantong orang-orang seperti Yulia, lembaga pemberi beasiswa menjadi salah satu jalan keluar.

SF termasuk lembaga favorit yang diserbu banyak peminat. SF adalah yayasan yang didirikan oleh perusahaan rokok PT HM Sampoerna pada 2001. Sampoerna bukanlah satu-satunya perusahaan yang peduli pendidikan. Jauh sebelumnya, ada Yayasan Toyota Astra yang didirikan PT Astra International dan perusahaan rokok PT Djarum Kudus. Juga ada perusahaan elektronik LG, General Electric (GE) Indonesia, dan yang lain.

Tentu tidak mudah meraih beasiswa. Maklum, selain persaingannya ketat, setiap lembaga memasang syarat masing-masing. Ada yang gampang, ada yang sulit. Fokus, tujuan, dan besarnya beasiswa tiap-tiap lembaga juga tidak sama. Di sinilah pentingnya mengenali ciri-ciri beasiswa agar tidak salah pinang.

LG, misalnya, hanya memberi beasiswa pada mahasiswa jurusan mesin, elektronika, kimia, dan telekomunikasi dari empat universitas: Unibraw, UGM, ITS, dan Undip. "Di daerah inilah banyak mahasiswa miskin," kata Fajar Supriady, HRD Manager LG, kepada Miranda Hutagalung dari Gatra.

GE punya sasaran lain. Menurut Corporate Communication GE Indonesia, Shakuntala Sutoyo, lewat Indonesia International Education Foundation (IIEF), perusahaan ini menggelontorkan dana US$ 64.000 selama periode 2002-2007 kepada mahasiswa UGM, UI, ITB, dan Undip. Sasarannya: mereka yang kesulitan keuangan. Urusan pengucuran beasiswa berikut administrasinya diserahkan kepada mitra (IIEF).

Sementara Yayasan Toyota Astra (Toyota), dari enam program rutin yang digelar tiap tahun --beasiswa reguler S-1, beasiswa politeknik, beasiswa top student grant, beasiswa pascasarjana, bantuan penelitian tesis, dan bantuan kegiatan ilmiah mahasiswa-- ditujukan pada bidang studi teknik, MIPA, pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Beasiswa reguler S-1, misalnya, ditujukan kepada mahasiswa kurang mampu dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 2,8 dan sudah duduk di semester V atau VII. Proses seleksi dilakukan bersama antara Toyota dan perguruan tinggi penerima beasiswa. "Karena mereka yang paling tahu," kata Hendratmaka, Sekretaris Toyota, kepada Ajeng Ritzki Pitakasari dari Gatra.

SF punya orientasi pada penguatan bisnis dan ekonomi. "Tujuannya memang untuk membangkitkan kembali sektor bisnis dan ekonomi Indonesia," kata Naomi Jamarro, Communication Officer SF. Makanya, sasarannya adalah orang-orang ekonomi. Beasiswa S-1, misalnya, hanya diberikan kepada 30 mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis dari UGM, UI, Unpad, dan Unair. Tahun lalu, hanya mahasiswa jurusan manajemen yang kebagian. Tapi tahun ini, sasaran diperluas ke ilmu studi pembangunan dan akuntansi.

Begitu pula program MM dan MBA (master of business administration). Kedua jenis beasiswa ini hanya memberi kesempatan pada praktisi bisnis dan ekonomi yang ingin memperdalam ilmunya. Tempat belajar 30 orang penerima beasiswa MM ditentukan di UI, UGM, Unair, Unpad, IPB, IPMI, dan sekolah bisnis Prasetya Mulya. Sedangkan tujuh orang penerima beasiswa MBA mesti lolos di top 25 universitas bisnis di Amerik Serikat.

SF selain mensyaratkan kemampuan inteligensia seperti IPK minimal 2,9 dan TOEFL minimal 550, kecerdasan emosionalnya juga dipertimbangkan. "Kami mencoba mengulik sisi kepribadiannya," kata Naomi. Apa yang dicari? Lewat tes personal profile review, SF hendak menggali potensi penerima beasiswa untuk menjadi pemimpin yang memiliki kepekaan sosial dan memberi sumbangan bagi masyarakat. Khusus beasiswa MM dan MBA, ada syarat sudah berpengalaman kerja selama dua tahun.

Besarnya beasiswa masing-masing tidak sama. LG, misalnya, memberi dana Rp 0,5 juta per bulan selama setahun kepada 13 mahasiswa, khususnya mereka yang kuliahnya akan berakhir. Makanya, ada tambahan dana skripsi sebesar Rp 1,5 juta per orang. Setelah lulus, mereka diikat kerja selama setahun di LG. "Cara ini terbukti efektif untuk perekrutan tenaga kerja," kata Fajar Supriady. Namun, ikatan itu tidak mutlak.

Sementara Toyota memberi beasiswa Rp 120.000 per bulan selama setahun. Bila prestasinya bagus, beasiswa tersebut bisa diperpanjang. Dari berbagai lembaga tadi, beasiswa SF termasuk yang paling komplet. Beasiswanya tidak hanya uang kuliah, melainkan juga mencakup biaya hidup, buku, dan uang internet. Bagi MM, ada biaya riset segala.

Sedangkan untuk penerima MBA, malah ada asuransi kesehatan, biaya visa, fasilitas komputer, dan ongkos penerbangan pergi-pulang. Bila dirupiahkan, MM jumlahnya Rp 60 juta-Rp 66 juta dan MBA US$ 100.00-US$ 150.000. "Nominalnya tergantung daerah studi," kata Naomi.

Tidak mengherankan bila syarat memperoleh beasiswa SF relatif sulit. Namun, pemburu beasiswa tidak perlu takut. Ada sejumlah kiat yang bisa ditiru. Menurut Fazar Wibisono, penerima beasiswa SF tahun 2001 yang lulus MM UI tahun lalu, pemberi beasiswa tak hanya melihat aspek akademis. "Mereka juga mempertimbangkan aktivitas sosial calon penerima," kata Fajar kepada Julkifli Marbun dari Gatra.

Ia mencontohkan dirinya. Ketika kuliah, Fajar nyambi kerja di Toyota di divisi training. Ia sudah melanglang ke Jakarta, Sumatera, dan Kalimantan. "Intinya, kita mesti menyeimbangkan antara kehidupan akademis dan aktivitas sosial, baik di senat maupun di LSM," kata Fajar. Setelah lulus MM UI, kini Fajar kapok jadi orang kantoran. "Jenuh," katanya. Makanya, ia kini memilih menjadi konsultan, fasilitator, dan peneliti.

Yulia Kurniawati mengingatkan, melengkapi syarat administrasi sekomplet mungkin juga amat penting. Mengirim aplikasi dengan cermat dan lengkap menjadi bukti keseriusan. Ia sendiri sampai berburu ke Malang untuk mencari surat rekomendasi dan surat aktif di organisasi kemahasiswaan. "Lamaran saya tebal," katanya.

Naomi memberi saran: istirahat yang cukup sebelum tes dan bersikap tenang menghadapi ujian. Dalam tes diskusi dan presentasi grup, harus tahu kapan menjadi pemimpin diskusi dan kapan mesti jadi pendengar. Terlalu diam, atau sebaliknya, banyak omong, seringkali sulit lolos. Suka ngomong, misalnya, bisa dipandang egois dan tak mau mendengar orang lain. "Intinya, bukan asal bicara, melainkan bicara yang berbobot," kata Yulia.

Khudori, dan Puguh Windrawan (Yogyakarta)

http://gatra.icom/2004-08-06/majalah/artikel.php?pil=14&id=42945&crc=1554065562

0 comments :

Formulir Kontak