Setelah Koma 5,5 Bulan

KESEHATAN
Setelah Koma 5,5 Bulan

Artis sinetron Sukma Ayu akhirnya meninggal setelah pulang ke rumahnya di Perumahan Bukit Sentul, Bogor. Berbagai peralatan kedokteran canggih disiapkan di rumahnya. Toh, tak banyak menolong. Berniat menggugat Medistra.

PUKUL tujuh pagi, Ahad lalu, taman pemakaman umum Al-Ihya, Ciomas, Bogor, dibanjiri ribuan orang. Mereka rela berjubel untuk menyaksikan prosesi pemakaman artis sinetron Sukma Ayu, yang berlangsung dua jam kemudian. Sejumlah artis ikut mengantarkan kepergian jenazah pemain utama Kecil-kecil Jadi Manten di RCTI itu ke liang lahat. Isak tangis dan kucuran air mata mengiringinya. Peggy Melati Sukma dan kekasihnya, Tengku Jacky, ikut meneteskan air mata.

Sukma Ayu telah berpulang sehari sebelumnya di rumah di Taman Bekasi, Perumahan Bukit Sentul, Bogor. Nyawa Euis, panggilan Sukma, tercerabut setelah dibawa pulang keluarga besar Misbach Yusa Biran dari Rumah Sakit Medistra, Kuningan, Jakarta Selatan. Di rumah sakit itu, Sukma terbaring koma selama 5,5 bulan. Selama itu pula ia terus dibantu dengan alat pernapasan oksigen dan peralatan lain.

Sukma koma karena mengalami aneurisma dan perdarahan di sub-arachnoid. Aneurisma adalah pelebaran pembuluh darah di sekitar kepala, sedangkan sub-arachnoid adalah bagian selaput otak. Kejadian itu tak lama setelah ia menjalani operasi tangannya yang terluka.

Biaya untuk menyadarkan si Rohaye --peran Sukma di sinetron-- itu memang tak sedikit. Setiap hari, kata Nina Kartika, kakak kandung Sukma Ayu, keluarganya harus mengeluarkan duit Rp 5 juta-Rp 6 juta sebagai biaya perawatan. Total, Rp 2,25 milyar-Rp 2,7 milyar fulus harus dibayarkan ke Medistra. Bila dibiarkan terus di sana, makin banyak uang terkuras, sementara belum ada tanda-tanda Sukma mulai siuman. "Kondisi Sukma hanya membaik dalam dua bulan pertama, seperti kaki bergerak. Setelah itu tak bergerak sama sekali," katanya kepada wartawan Gatra Naban Mahfia.

Karena itu, Nani Wijaya, ibu Sukma, ingin membawanya pulang. Namun ia tak mau membiarkan anaknya tergeletak di rumah tanpa bantuan apa pun. Sejumlah persiapan dilakukan. Menurut Nina, kamar berukuran 3 x 5 meter direnovasi dan dicat warna krem. "Kami perluas seperti layaknya ruangan gawat darurat," katanya kepada Julkifli Marbun dari Gatra.

Selain kamar, peralatan kedokteran ikut disiapkan. Syringe pump, yang dibeli dengan harga Rp 17 juta, disediakan. Juga sejumlah peralatan seperti suction, alat monitor jantung, monitoring saturasi, oksigen dalam bentuk darah, kipas plafon, alat suntik, alat untuk memasukkan makanan lewat hidung, dan tempat tidur berikut kasur khusus.

Untuk mengantisipasi listrik mati, Nani Wijaya menyediakan genset. "Totalnya kami mengeluarkan duit Rp 100 juta," ujar Nina. Produk impor itu dibeli lewat beberapa kolega. Keluarga Sukma juga mendapat pinjaman ventilator seharga Rp 400 juta dari seorang rekan di RCTI. Pemasangan peralatan itu dimulai sejak Rabu pekan lalu. Selain itu, juga disediakan kamera video yang akan memantau perkembangan kondisi Sukma.

Untuk menjaga Sukma, keluarganya menyewa dua perawat. Perawat itu sudah dilatih dan disuruh saat menjaga Sukma di ruang ICU Medistra. Sehingga, ketika Sukma dibawa pulang, perawat tadi sudah mahir menanganinya. Keluarga besar Misbach Yusa Biran juga meminta Dokter Sutarman menangani Sukma selama dirawat di rumah. Selain itu, juga didatangkan Dokter Prampilaay, konsultan dokter di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura. Dokter tersebut memantau Sukma di Medistra selama enam hari dan sehari di rumah.

Setelah semua peralatan beres, Jumat pekan lalu Sukma diboyong ke rumahnya di Perumahan Bukit Sentul. Namun Sukma cuma mencicipi peralatan itu selama 13 jam. Denyut jantung pada 12 jam terakhir terus menurun. Pada pukul 08.30 Sabtu pekan lampau, ketika dokter meraba tangan Sukma. "Tak ada denyut," ujarnya.

Awalnya, Misbach yang diberi info tentang itu merasa kurang yakin. Misbach terus berupaya memastikan kondisi anaknya, lantaran sudah lama Sukma memang tak sadar. Akhirnya Sutarman menggunakan alat monitor jantung. Setelah diperiksa, dugaan Sutarman benar. Detak jantung Sukma tak terbaca lagi.

Sukma telah pergi. Pihak keluarga akan menyumbangkan peralatan itu ke sejumlah rumah sakit yang membutuhkan. "Tapi, mau ke mana, kami masih merundingkannya. Sebab, saat ini kami masih sibuk tahlilan," kata Nina.

Tak cuma itu. Keluarga pun berniat menggugat pihak Medistra atas kelalaian menangani Sukma. Misbach sudah menunjuk pengacara Hotman Paris Hutapea. Atas rencana itu, Salim Haris, dokter yang menangani Sukma di Medistra, enggan menanggapinya secara panjang lebar. Ia pun tak mau bercerita lagi soal Sukma Ayu. "Sebagai dokter, saya sudah melakukan yang terbaik," ujarnya.

Aries Kelana

0 comments :

Formulir Kontak